
Oleh: Ricci Saadi Wijaya S.Psi
Setiap tahunnya, jumlah tindak kejahatan kekerasan (violent crime)
di Indonesia seperti pembunuhan, pemerkosaan, perampokan dan
penyerangan terus meningkat. Pada tahun 2004 diperkirakan jumlah tindak
kejahatan kekerasan yang terjadi sekitar 196.931 kasus sedangkan pada
tahun 2005 jumlah tindak kejahatan kekerasan yang terjadi sekitar
209.673 kasus (www.tempointeraktif.com). Tindakan kejahatan kekerasan
yang terus meningkat ini merupakan contoh dari perilaku agresif yaitu
perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti
atau merugikan orang lain (Myers, 1996). Berdasarkan penyebabnya,
perilaku agresif ini dapat terjadi karena faktor disposisi/kepribadian
(nature) dan faktor situasional (nurture).
Di sisi yang lain, kritik yang banyak bermunculan terhadap pendukung
teori nature menunjukkan bahwa kelompok teori ini belum dapat
menjelaskan dengan tepat pengaruh faktor disposisi/kepribadian terhadap
perilaku agresif. Kekurangan dari teori ini adalah tidak memperhatikan
keanekaragaman yang terdapat pada tiap individu yang disebabkan oleh
faktor lingkungan. Jika perilaku agresif memang disebabkan oleh faktor
bawaan (misal: naluri, gen), seharusnya perilaku agresif tersebut sama
untuk setiap orang yang memiliki naluri atau gen tersebut kapan saja dan
dimana saja. Pada kenyataannya, frekuensi dan cara tiap individu dalam
mengekspresikan agresivitasnya berbeda-beda tergantung lingkungan tempat
ia tinggal. Contoh: di Norwegia, angka pembunuhan sangat rendah yaitu
tidak sampai 1 orang dalam 100.000 penduduk tetapi di Irlandia jauh
lebih tinggi yaitu 13 orang dalam 100.000 penduduk dan di Muangthai
mencapai 14 orang dalam 100.000 penduduk (data tahun 1970, dikutip dari
Archer & Gartner, 1984).
Melihat banyaknya kritik yang bermunculan, para ahli psikologi
lainnya berusaha untuk menjelaskan perilaku agresif dari sudut pandang
yang berbeda yaitu berdasarkan faktor situasional (nurture). Salah satu
teori yang muncul adalah teori social learning perspective
(e.g., Bandura, 1997) yang berawal dari sebuah ide bahwa manusia tidak
lahir dengan sejumlah respons-respons agresif tetapi mereka harus
memperoleh respons ini dengan cara mengalaminya secara langsung (direct experience)
atau dengan mengobservasi tingkah laku manusia lainnya (Anderson &
Bushman, 2001; Bushman & Anderson, 2002). Dengan demikian,
berdasarkan pengalaman masa lalu mereka dan kebudayaan dimana mereka
tinggal, individu mempelajari: (1) berbagai cara untuk menyakiti yang
lain, (2) kelompok mana yang tepat untuk target agresi, (3) tindakan apa
yang dibenarkan sebagai tindakan balas dendam, (4) situasi atau konteks
apa yang mengizinkan seseorang untuk berperilaku agresif. Singkatnya,
teori social learning perspective berusaha menjelaskan bahwa
kecenderungan seseorang untuk berperilaku agresif tergantung pada banyak
faktor situasional, yaitu: pengalaman masa lalu orang tersebut, rewards
yang diasosiasikan dengan tindakan agresif pada masa lalu atau saat
ini, dan sikap serta nilai yang membentuk pemikiran orang tersebut
mengenai perilaku agresif.
Proses-proses belajar sosial yang dapat menimbulkan perilaku agresif:
1. Classical conditioning. Perilaku agresif terjadi karena adanya proses mengasosiasikan suatu stimulus dengan stimulus lainnya. Contoh: pelajar STM X yang sering tawuran dengan pelajar STM Y akan mengasosiasikan pelajar STM Y sebagai musuh/ancaman sehingga mereka akan berperilaku agresif (ingin memukul/berkelahi) ketika melihat pelajar STM Y atau orang yang memakai seragam STM Y.
2. Operant Conditioning. Perilaku agresif terjadi akibat adanya reward yang diperoleh setelah melakukan perilaku agresif tersebut. Reward tersebut bersifat tangible (memperoleh sesuatu yang dia mau), sosial (dikagumi/disegani oleh kelompoknya), dan internal (meningkatkan self-esteem orang tersebut). Contoh: A sering berkelahi dan menganggu temannya karena ia merasa disegani oleh teman-temannya dengan melakukan tindakan agresif tersebut.
3. Modelling (meniru). Perilaku agresif terjadi karena seseorang meniru seseorang yang ia kagumi. Contoh: seorang anak kecil yang mengagumi seorang petinju terkenal akan cenderung meniru tingkah laku petinju favoritnya tersebut, misalnya menonjok temannya.
4. Observational Learning. Perilaku agresif terjadi karena seseorang mengobservasi individu lain melakukannya baik secara langsung maaupun tidak langsung. Contoh: seorang anak kecil memiting tangan temannya setelah menonton acara Smack Down.
5. Social Comparison. Perilaku agresif terjadi karena seseorang membandingkan dirinya dengan kelompok atau orang lain yang disukai. Contoh: seorang anak yang bergaul dengan kelompok berandalan jadi ikut-ikutan suka berkelahi atau berkata-kata kasar karena ia merasa harus bertingkah laku seperti itu agar dapat diterima oleh kelompoknya.
6. Learning by Experience. Perilaku agresif terjadi karena pengalaman masa lalu yang dimiliki oleh orang tersebut. Contoh: anak yang sejak kecil sering mengalami perilaku agresif (berkelahi/dipukuli) cenderung akan menjadi anak yg agresif (suka berkelahi).
1. Classical conditioning. Perilaku agresif terjadi karena adanya proses mengasosiasikan suatu stimulus dengan stimulus lainnya. Contoh: pelajar STM X yang sering tawuran dengan pelajar STM Y akan mengasosiasikan pelajar STM Y sebagai musuh/ancaman sehingga mereka akan berperilaku agresif (ingin memukul/berkelahi) ketika melihat pelajar STM Y atau orang yang memakai seragam STM Y.
2. Operant Conditioning. Perilaku agresif terjadi akibat adanya reward yang diperoleh setelah melakukan perilaku agresif tersebut. Reward tersebut bersifat tangible (memperoleh sesuatu yang dia mau), sosial (dikagumi/disegani oleh kelompoknya), dan internal (meningkatkan self-esteem orang tersebut). Contoh: A sering berkelahi dan menganggu temannya karena ia merasa disegani oleh teman-temannya dengan melakukan tindakan agresif tersebut.
3. Modelling (meniru). Perilaku agresif terjadi karena seseorang meniru seseorang yang ia kagumi. Contoh: seorang anak kecil yang mengagumi seorang petinju terkenal akan cenderung meniru tingkah laku petinju favoritnya tersebut, misalnya menonjok temannya.
4. Observational Learning. Perilaku agresif terjadi karena seseorang mengobservasi individu lain melakukannya baik secara langsung maaupun tidak langsung. Contoh: seorang anak kecil memiting tangan temannya setelah menonton acara Smack Down.
5. Social Comparison. Perilaku agresif terjadi karena seseorang membandingkan dirinya dengan kelompok atau orang lain yang disukai. Contoh: seorang anak yang bergaul dengan kelompok berandalan jadi ikut-ikutan suka berkelahi atau berkata-kata kasar karena ia merasa harus bertingkah laku seperti itu agar dapat diterima oleh kelompoknya.
6. Learning by Experience. Perilaku agresif terjadi karena pengalaman masa lalu yang dimiliki oleh orang tersebut. Contoh: anak yang sejak kecil sering mengalami perilaku agresif (berkelahi/dipukuli) cenderung akan menjadi anak yg agresif (suka berkelahi).
Nature VS Nurture
Melihat uraian-uraian di atas, penulis sependapat dengan Anderson & Bushman bahwa manusia tidak lahir dengan sejumlah respons-respons agresif tetapi mereka harus memperoleh respons ini dengan cara mengalaminya secara langsung (direct experience) atau dengan mengobservasi tingkah laku manusia lainnya. Menurut penulis, individu yang tidak mempunyai sifat agresif cenderung akan menampilkan perilaku agresif jika ia telah mempelajarinya dari lingkungannya. Sebaliknya, individu yang mempunyai sifat agresif cenderung tidak akan menampilkan perilaku agresif jika lingkungannya tidak mendukung atau mengajarinya berperilaku agresif. Hal ini dibuktikan melalui eksperimen klasik dengan boneka Bobo yang dilakukan oleh Bandura & Ross (Bandura, Ross, & Ross, 1961). Dalam eksperimen ini, pada kelompok murid TK yang pertama ditampillkan video yang berisi perilaku agresif (memukul, menendang, membanting boneka Bobo) sedangkan pada kelompok murid TK yang kedua ditampilkan video yang tidak berisi perilaku agresif. Hasilnya, kelompok murid TK yang pertama berperilaku jauh lebih agresif dibandingkan dengan kelompok murid TK yang kedua bahkan mereka meniru adegan-adegan yang terdapat dalam video yang berisi perilaku agresif.
Melihat uraian-uraian di atas, penulis sependapat dengan Anderson & Bushman bahwa manusia tidak lahir dengan sejumlah respons-respons agresif tetapi mereka harus memperoleh respons ini dengan cara mengalaminya secara langsung (direct experience) atau dengan mengobservasi tingkah laku manusia lainnya. Menurut penulis, individu yang tidak mempunyai sifat agresif cenderung akan menampilkan perilaku agresif jika ia telah mempelajarinya dari lingkungannya. Sebaliknya, individu yang mempunyai sifat agresif cenderung tidak akan menampilkan perilaku agresif jika lingkungannya tidak mendukung atau mengajarinya berperilaku agresif. Hal ini dibuktikan melalui eksperimen klasik dengan boneka Bobo yang dilakukan oleh Bandura & Ross (Bandura, Ross, & Ross, 1961). Dalam eksperimen ini, pada kelompok murid TK yang pertama ditampillkan video yang berisi perilaku agresif (memukul, menendang, membanting boneka Bobo) sedangkan pada kelompok murid TK yang kedua ditampilkan video yang tidak berisi perilaku agresif. Hasilnya, kelompok murid TK yang pertama berperilaku jauh lebih agresif dibandingkan dengan kelompok murid TK yang kedua bahkan mereka meniru adegan-adegan yang terdapat dalam video yang berisi perilaku agresif.
Selain itu, penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa pada hewan yang
lebih rendah, banyak respons yang selama ini dianggap instinctive murni
ternyata sebenarnya adalah respons yang dipelajari. Contoh: seekor
kucing muda memburu tikus bukan karena instingnya tetapi karena mereka
mempelajari perilaku itu dengan melihat kucing lain yang lebih tua (Kuo,
1930). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif lebih
merupakan perilaku yang dipelajari dari lingkungan (nurture) daripada
perilaku yang diwariskan (nature).
DAFTAR PUSTAKA
Baron, R.A., Byrne, D., & Branscombe, N.R. (2006). Social psychology (11th ed.). Boston: Pearson Education, Inc.
Sarwono, S.W. (2002). Psikologi sosial: Individu dan teori-teori psikologi sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
Sarwono, S.W. (2002). Berkenalan dengan aliran-aliran dan tokoh-tokoh psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.
Wortman, C.B., Loftus, E.F., & Weaver, C. (1999). Psychology (5th ed.). Boston: McGraw-Hill College.
Baron, R.A., Byrne, D., & Branscombe, N.R. (2006). Social psychology (11th ed.). Boston: Pearson Education, Inc.
Sarwono, S.W. (2002). Psikologi sosial: Individu dan teori-teori psikologi sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
Sarwono, S.W. (2002). Berkenalan dengan aliran-aliran dan tokoh-tokoh psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.
Wortman, C.B., Loftus, E.F., & Weaver, C. (1999). Psychology (5th ed.). Boston: McGraw-Hill College.
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/01/01/brk,20050101-01,id.html
Sumber Video: http://www.youtube.com/watch?v=vdh7MngntnI&feature=related
Sumber Foto: http://www.flickr.com/photos/vixrichardson/2967817522/
Sumber Foto: http://www.flickr.com/photos/vixrichardson/2967817522/
Informasi Penulis:
Ricci Saadi Wijaya S.Psi adalah lulusan Fakultas Psikologi
UI. Saat ini sudah bekerja, tetapi masih menyempatkan diri untuk berbagi
ilmu pengetahuan mengenai aplikasi psikologi dalam kehidupan
sehari-hari. Artikel ini adalah tulisan keduanya untuk
www.ruangpsikologi.com. Tulisan pertamanya berjudul Awas Terlilit ‘Setan’ Kredit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar